Senja Ramadan 2025 Hari 14: Kelompok Orang Yang Diselamatkan Dari Siksa Kubur
Sama seperti kehidupan dunia yang dinamis dengan segala perubahannya, di alam ini tubuh dan jasad kita tidak hanya berdiam diri saja, tetapi juga ada peristiwa yang terjadi. Peristiwa ini tidak jauh berbeda dengan kebiasaan aktivitas yang kita jalani di dunia. Bila di kehidupan dunia kita terbiasa melakukan kebiasaan buruk dan bermaksiat, maka di alam barzakh kita akan mendapatkan konsekuensi yang sama, yang dikenal dengan istilah “siksa kubur”.Bila di dunia kita sering melakukan amalan kebaikan dan hal-hal yang menghindari kemaksiatan atau dosa, maka di alam kubur kita akan ditemani oleh amalan-amalan baik tersebut.
Dua hari terakhir ini, Ustadz Abdullah mengajak kita merenungi tentang kehidupan kita setelah kematian. Jika sebelumnya topiknya lebih banyak membahas tentang kehidupan di Akhirat, di hari ini beliau fokus membahas tentang alam barzakh dan orang-orang yang akan diselamatkan oleh Allah SWT dari siksa kubur.
Nabi saw. bersabda :
ثلاثة يعصمهم الله تعالى من عذاب القبر الشّهيد والمؤذّن والمتوفّى يوم الجمعة وليلة الجمعة
Artinya : “Tiga golongan manisia Allah Ta’ala menjaga mereka dari siksa kubur yaitu : orang yang mati syahid, juru adzan, dan orang yang mati pada hari jum’at dan malam jum’at”. 1
Penjelasan ini bersumber dari kitab Tanqihul Qoul karya Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi, yang diajarkan oleh Ustadz Abdullah. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kemudahan untuk selalu beramal saleh dan menjauhkan kita dari azab kubur. Aamiin.
Alam Kubur dalam Al-Qur’an dan Hadis
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menggambarkan kondisi orang-orang yang mendapatkan azab di dalam kubur, sebagaimana dalam firman-Nya:
ٱلنَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدْخِلُوٓا۟ ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ ٱلْعَذَابِ
Artinya: Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras". ~ (QS. Ghafir [al Mu'min] : 46)
Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah menyatakan
Arwah-arwah mereka ditunjukkan kepada neraka saat berada di alam barzah (alam setelah kematian dan sebelum kiamat) setiap pagi dan sore untuk membuat mereka gelisah. Ditampakkan pula akibat dari azab yang menimpa jasad mereka, meskipun sudah hancur. Pada hari terjadinya kiamat, dikatakanlah kepada para malaikat: “Masukkanlah para pasukan fir’aun ke dalam azab yang bermacam-macam di neraka.” Faktanya bahwa azab kubur itu abadi bagi mereka.
Sementara Ibnu Sirin berdasarkan kajian Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia menyatakan:
Ibnu Sirin berkata: Abu Hurairah pernah mendatangi kami setelah shalat Ashar dan berkata: Malaikat telah naik, Malaikat telah turun, dan keluarga Fir'aun telah dimasukkan ke dalam Neraka, maka tidak ada yang akan mendengarnya kecuali dia berlindung kepada Allah ta'ala dari Neraka
Utsman pun mengatakan, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إن القبر أول منازل الآخرة فإن نجا منه فما بعده أيسر منه وإن لم ينج منه فما بعده أشد منه“Sesungguhnya liang kubur adalah awal perjalanan akhirat. Jika seseorang selamat dari (siksaan)nya maka perjalanan selanjutnya akan lebih mudah. Namun jika ia tidak selamat dari (siksaan)nya maka (siksaan) selanjutnya akan lebih kejam.” (HR. Tirmidzi, beliau berkata, “hasan gharib”. Syaikh al-Albani menghasankannya dalam Misykah al-Mashabih)
Hadis ini menjelaskan bahwa kubur merupakan fase pertama dalam perjalanan menuju kehidupan akhirat, yang menjadi penentu bagi perjalanan selanjutnya. Jika seseorang selamat dari siksa kubur karena amal baiknya di dunia, maka tahapan setelahnya—termasuk hari kebangkitan dan hisab—akan lebih ringan baginya.
Namun, jika ia tidak selamat dan mendapatkan azab di dalam kuburnya, maka tahapan berikutnya akan jauh lebih berat dan mengerikan. Hadis ini mengingatkan umat Islam untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah mati dengan beriman, beramal saleh, dan menjauhi perbuatan yang mendatangkan azab Allah.
Muadzin, Orang yang Mengumandangkan Adzan
Muadzin memiliki kedudukan istimewa dalam Islam, sebagaimana disebutkan dalam QS. Fushshilat ayat 33 bahwa mereka adalah orang-orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan amal saleh.وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" ~ QS Fusillat Ayat 33 i
Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di ii, pakar tafsir abad 14 H:
Ayat 33 ini adalah satu bentuk pertanyaan yang bermakna menafikan sesuatu yang sudah pasti tidak ada. Artinya, tidak seorangpun, “yang lebih baik perkataannya,” ucapan, jalan hidup dan kondisinya “daripada orang yang menyeru kepada Allah,” dengan memberikan pengajaran kepada orang-orang yang bodoh, memberikan nasihat kepada orang-orang yang lalai dan berpaling serta berdialog dengan orang-orang yang berpaham menyimpang agar mereka hanya beribadah kepada Allah dengan berbagai bentuk ibadah, menganjurkannya dan memperindahnya semampunya, dan agar mereka berhenti melakukan apa-apa yang Allah larang serta memperburuknya dengan segala cara yang bisa membuat mereka meninggalkannya, terutama adalah mengajak kepada prinsip dinul islam, memperindahnya dan mendebat musuh-musuhnya dengan metode yang terbaik, dan melarang lawan prinsip tersebut, yaitu kekafiran dan syirik, serta mengajak kepada kebaikan dan mencegah yang mungkar.
Termasuk dakwah kepada Allah adalah mengajak mereka mencintai-Nya dengan cara menjelaskan rincian nikmat-nikmat-Nya, kemahaluasan karunia-Nya dan kemahasempurnaan rahmat-Nya serta menjelaskan sifat-sifat kesempurnaan dan kebesaran-Nya.
Termasuk berdakwah kepada Allah adalah memberikan motivasi untuk mencai ilmu dan pedoman hidup kitabullah dan Sunnah rasulNya dan menghimbaukannya dengan segala metode yang bisa mengantakan kepada maksud.
Dan temasuk dakwah juga adalah mengajak berakhlak mulia dan bebuat ihsan kepada segenap makhluk, membalas oang yang berbuat buruk dengan bebuat baik kepadanya, mengajak menjalin silatuahim dan bebakti kepada kedua ibu bapak.
Termasuk juga memberikan nasihat kepada masyarakat umum pada momen-momen tertentu, pada kesempatan-kesempatan temporal dan pada momen tejadinya bencana sesuai dengan kondisi, dan lain-lainnya yang sangat banyak sekali, yang tidak mungkin disebutkan satu persatu yang mencakup dakwah kepada kebaikan dan larangan dari segala keburukan.
Kemudian Allah befirman,”dan mengerjakan amal yang shalih,” maksudnya, disamping dakwahnya mengajak manusia kepada Allah, ia sendiri segera mematuhi perintah Allah dengan beramal shalih yang membuat Rabbnya ridha,”
Dan berkata, “sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” maksudnya, tunduk pada perintah-Nya dan menempuh jalan-Nya. Derajat sempurna seperti ini adalah milik ashidiqin yaitu orang-oang yang berbuat untuk menyempurnakan diri mereka sendiri dan menyempurnakan oang-orang lain dan mereka memperoleh warisan sempurna dari para rasul.:
Dan sebaliknya orang yang paling buruk perkataannya adalah orang yang tergolong penyeru kepada kesesatan lagi menelusuri jalan-jalannya.
Di antara dua predikat (kedudukan) yang salah satunya menjulang tinggi tak terjangkau, sedangkan yang lain turun kebawah hingga pada tingkat yang paling rendah, terdapat tingkatan-tingkatan yang hanya diketahui oleh Allah, semuanya ada tersebar pada manusia, dan masing-masing memiliki tingkatan-tingkatan tesendiri dari apa yang dikerjakannya. Dan sekali-kali Allah tidak pernah lalai terhadap apa yang mereka kerjakan.
Meski tafsir dari ayat di atas tidak secara jelas menerangkan tentang muadzin namun dalam kitab Tanqihul Qoul, QS Fussilat Ayat 33 digunakan sebagai dasar untuk membahas perihal topik muadzin. iii
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang mengumandangkan adzan dengan ikhlas akan mendapatkan berbagai keutamaan, di antaranya terbebas dari neraka jika melakukannya selama tujuh tahun, serta dijanjikan surga jika beradzan selama dua belas tahun.
Nabi saw. bersabda :
من اذّن للصّلاة سبع سنين محتسبا كتب الله له براءة من النّار
Artinya : “Siapa yang beradzan untuk shalat selama tijuh tahun karena mengharap keridhaan Allah (tanpa menuntut bayaran), maka Allah menetapkan baginya terbebas dari neraka”. (Hadits diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas ra.) 2
Selain itu, mereka yang beradzan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah akan mendapatkan pengampunan atas dosa-dosa kecilnya, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Al-Baihaqi.
Nabi saw. bersabda :
من اذّن ثنتى عشرة سنة وجبت له الجنّة
Artinya : “Siapa beradzan selama dua belas tahun (dengan iklas karena Allah), maka baginya wajib (masuk) surga”. (Hadits diriwayatkan oleh Ibnu majah dan Al Hakim dari Ibnu Umar ra.) 3
Keutamaan lain bagi para muadzin adalah bahwa mereka termasuk dalam golongan yang dilindungi dari siksa kubur, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi SAW yang menyebutkan tiga kelompok manusia yang dijaga dari azab kubur, yaitu orang yang mati syahid, muadzin, dan orang yang meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat.
Dalam Islam, syahid sendiri terbagi menjadi tiga kategori: syahid dunia dan akhirat bagi mereka yang berjihad dengan niat menegakkan agama Allah, syahid akhirat bagi mereka yang wafat karena sebab-sebab tertentu seperti tenggelam atau kebakaran, serta syahid dunia bagi mereka yang gugur dalam peperangan tanpa niat mencari keridhaan Allah.
Selain itu, Rasulullah SAW juga menekankan keutamaan menjawab seruan adzan. Mereka yang mendengar adzan lalu mengucapkan seperti yang diucapkan oleh muadzin akan mendapatkan pahala besar dan diangkat derajatnya. Bahkan, mereka yang memahami nilai adzan dan shalat berjamaah di shaf pertama akan berusaha mendapatkannya meskipun harus melalui undian.
Hadis-hadis lain juga menyebutkan bahwa saat adzan berkumandang, pintu-pintu langit terbuka dan doa-doa dikabulkan, serta mereka yang menjaga waktu adzan akan mendapatkan perlindungan di bawah naungan ‘Arasy pada hari kiamat. Hal ini menunjukkan bahwa adzan bukan sekadar panggilan shalat, melainkan juga amalan yang mem
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah SAW bersabda:
“Muadzin diampuni sejauh jangkauan adzannya. Seluruh benda yang basah maupun yang kering yang mendengar adzannya, memohonkan ampunan untuknya.” (HR. Ahmad). iv
Hadits diriwayatkan oleh Malik, Ahmad, Bukhari, Muslim, Nasai, dan Abu Dawud dari Abu Hurairah ra. Nabi saw. bersabda :
من سمع النّداء فقبّل ابها ميه فوضع على عينيه وقال مرحبا بذكرالله تعالى قرّة اعبننا بك يارسول الله, فانا شفيعه يوم القيامة وقئده الى الجنّة
Artinya : “Siapa mendengar panggilan adzan lalu ia mengucap kedua ibu jarinya dan meletakkannya pada kedua matanya sambil membaca : “MARHABAN BIDZIKRILLAHI TA’ALA QUURATU A’YUNINAA BIKAYA RASULULLAH , maka saya memberikan syafa’at kepadanya pada hari kiamat dan menuntunnya ke surga” 4
اذا كان وقت الاذان فتحت ابواب السّماء واستجيبت الدّعاء واذا كان وقت الاقامة لم تردّ دعوته
Artinya : “Ketika ada waktu adzan, maka dibukalah pintu-pintu langit dan dikabulkanlah doa. kemudian ketika ada waktu iqamah, maka doanya tidak tertolak”. 5
Imam An Nawawi mengatakan dalam Kitab Al Adzkar : Diriwayatkan kepadaku dari Anas ia berkata, Rasulullah saw. bersabda : “Tidak akan ditolak doa diantara dua adzan dan iqamah”. Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud, Turmudzi, Nasai, Ibnu Sunni dan yang lain.
Turmudzi menambahkan dalam riwayatnya : mereka berkata : “Maka bagaimana kami memohon ya Rasulullah?” Beliau bersabda : “Mohonlah kesehatan kepada Allah di dunia dan di akhirat”.
Nabi saw. bersabda :
من قال عند الاذان : مرحبا بالقائلين عدلا, مرحبا بالصلوات واهلا كتب الله تعالى له الف حسنة ومحا عنه الف سيّئة ورفع له الف درجةArtinya : “Siapa yang membaca ketika adzan : “MARHABAN BILL QAAILIIN ‘ADLAN, MARHABAN BIS SHALAWAATI WA AHLAN”, maka Allah Ta’ala menulis baginya seribu kebaikan dan menghapus dari padanya seribu kejelekan serta mengangkat baginya seribu derajat”. 6
Nabi saw. bersabda :
من سمع الاذان ولم يقل مثل ما قال المؤذّنون فانه يمنع من السّجود يوم القيامة اذا سجد المؤذّنون
Artinya : “Siapa mendengar adzan tetapi tidak mau menjawab (mengucap) seperti apa yang duicapkan muadzin, maka ia tercegah dari sujud pada hari kiamat, ketika para juru adzan bersujud”. 7
Mengucapkan seperti apa yang diucapkan muadzin itu dari seluruh kalimat, tetapi ada disebutkan dalam suatu hadits mengecualikan kalimat “HAYYA ‘ALAL FALAAH” maka keduanya mengucapkan : “LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAHIL ‘ALIYYIL ‘ADHIIM”. Inilah yang lebih masyhur menurut pendapat mayoritas Ulama dan Hanabilah dan dalam satu pendapat.
Imam Nawawi mengatakan dalam Al Adzkar :
“Jika seorang mendengar mu’adzin dan orang qamat dimana ia sedang shalat, maka ia tidak perlu menjawab dalam shalat. Kemudian jika ia telah bersalam, maka menjawablah sebagaimana orang yang tidak sedang shalat menjawabnya.” 8
Kalau ia menjawabnya dalam shalat maka makruh dan tidak batal shalatnya. Demikian pula orang yang mendengarnya sedangkan ia berada di kakus, maka ia tidak diwajibkan menjawab seketika itu, lalu ia sudah keluar supaya menjawabnya.
Adapun jika ia sedang membaca Al Qur’an, atau tasbih, atau membaca hadits, maka hentikanlah semua itu dan menjawab mu’adzin. Kemudian kembali membacanya lagi. karena menjawab itu dapat menghabiskan waktu jika dalam menjawab mengikuti bacaan mu’adzin sampai selesai, sedangkan membaca hal-hal tersebut tidak akan kehabisan waktu.
Muadzin adalah orang yang mengajak umat Islam untuk menunaikan shalat, yang merupakan tiang agama. Keistimewaan ini menunjukkan betapa besar pahala bagi mereka yang menyerukan kalimat tauhid dengan penuh keikhlasan.
Syekh Abdul Qadir Al Jilani ra. berkata :
“Disunahkan sebelum tidur membaca tiga ratus ayat, agar termasuk golongan orang-orang yang ahli beribadah dan tidak termasuk orang-orang yang lalai. Maka bacalah Surat Al Furqan dan As-Syu’ara, karena keduanya mengandung tiga ratus ayat. Jika tidak dapat maka bacalah Surat Al Waqi’ah, Nun, Al Haaqqah, Al Waqi’ yakni “Sa-ala saa-ilum bi’adzaabiw waaqi'” serta surat Al Muddatstsir.
Jika tidak dapat melakukan dengan baik dari surat-surat itu, maka bacalah Surat At Thariq sampai penghabisan Al Qur’an karena ada tiga ratus ayat. Apabila mau membaca sekitar seribu ayat, maka lebih baik baginya dan memperoleh faedah yang lebih sempurna, baginya ditetapkan pahala yang banyak, dan ditetapkan termasuk golongan orang yang ta’at, yaitu mulai surat Tabarak (Al Mulk) sampai penghabisan Al Qur’an.
Jika tidak dapat membacanya, maka bacalah Surat Al Ikhlas sebanyak dua ratus lima puluh kali, karena seluruhnya terkumpul menjadi seribu ayat, hal itu jika disertai Basmalah.
Dan sebaliknya jangan meninggalkan membaca empat surat pada setiap malam, yaitu : Alif Lam Miim Tanzi As Sajdah; Surat Yaa Siin; Haa Miim Ad Dukhan; dan Tabarak. Jika membacanya disertai Al Muzzammil dan Al Waqiah, maka ia lebih baik.
Nabi SAW. tidak tidur sehingga beliau membaca Surat As Sajdah dan Tabarak (Al Mulk). Dalam warta yang lain, sehingga Beliau membaca “Al Musabbahat” karena dikatakan di dalamnya terdapat ayat yang lebih utama dari pada 100.000 (seratus ribu) ayat. v
Jika tidak dapat melakukan dengan baik dari surat-surat itu, maka bacalah Surat At Thariq sampai penghabisan Al Qur’an karena ada tiga ratus ayat. Apabila mau membaca sekitar seribu ayat, maka lebih baik baginya dan memperoleh faedah yang lebih sempurna, baginya ditetapkan pahala yang banyak, dan ditetapkan termasuk golongan orang yang ta’at, yaitu mulai surat Tabarak (Al Mulk) sampai penghabisan Al Qur’an.
Jika tidak dapat membacanya, maka bacalah Surat Al Ikhlas sebanyak dua ratus lima puluh kali, karena seluruhnya terkumpul menjadi seribu ayat, hal itu jika disertai Basmalah.
Dan sebaliknya jangan meninggalkan membaca empat surat pada setiap malam, yaitu : Alif Lam Miim Tanzi As Sajdah; Surat Yaa Siin; Haa Miim Ad Dukhan; dan Tabarak. Jika membacanya disertai Al Muzzammil dan Al Waqiah, maka ia lebih baik.
Nabi SAW. tidak tidur sehingga beliau membaca Surat As Sajdah dan Tabarak (Al Mulk). Dalam warta yang lain, sehingga Beliau membaca “Al Musabbahat” karena dikatakan di dalamnya terdapat ayat yang lebih utama dari pada 100.000 (seratus ribu) ayat. v
Imam atau Pemimpin Yang Adil
Imam atau pemimpin yang adil disebut pertama sebagai kelompok yang mendapat naungan Allah di hari kiamat.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ متفق عليه
Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW, ia bersabda, ‘Ada tujuh kelompok orang yang dinaungi oleh Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang mengisi hari-harinya dengan ibadah, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah di mana keduanya bertemu dan berpisah karena Allah, seorang yang dibujuk berzina oleh lawan jenis yang berpangkat dan rupawan lalu menjawab, ‘Aku takut kepada Allah,’ seseorang yang bersedekah diam-diam sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir di kesunyian dengan menitikkan air mata,’” (HR Bukhari dan Muslim).
Penyebutan pertama imam atau pemimpin yang adil ini bukan tanpa makna. Penyebutan pertama imam atau pemimpin yang adil menunjukkan betapa pentingnya keadilan imam atau pemimpin. vi
Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ’anhu, Nabi Muhammad SAW bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
"Sesungguhnya seorang imam (khalifah) adalah perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya." (HR. Muttafaqun ’Alayh dan lainnya). vii
Hadis ini dijadikan sebagai salah satu dalil yang menunjukkan kewajiban mengangkat seorang khalifah serta menegaskan pentingnya kedudukannya dalam Islam, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Ajhizat Dawlat al-Khilâfah bahwa seorang khalifah berfungsi sebagai junnah (perisai) atau pelindung bagi umat Islam.
Rasulullah SAW menyebut khalifah sebagai junnah, yang menunjukkan bahwa keberadaannya adalah sesuatu yang terpuji dan menjadi tuntutan untuk dilaksanakan karena bersumber dari Allah dan Rasul-Nya.
Jika suatu perbuatan disifati dengan celaan, maka itu merupakan larangan, sedangkan jika disifati dengan pujian, maka itu menunjukkan kewajiban untuk melaksanakannya. Terlebih lagi, apabila keberadaan seorang khalifah menjadi syarat tegaknya hukum syariat, sementara ketiadaannya dapat menyebabkan hukum syariat terabaikan, maka tuntutan ini bersifat tegas dan tidak bisa diabaikan.
Rasulullah SAW bersabda,
"(Para imam itu) sholat bersama kalian (makmum). Jika mereka (para imam) itu benar, (pahala) bagi kalian (dan bagi mereka) dan jika mereka salah, pahala bagimu dan dosa atas mereka." (HR Bukhari) viii
Hadis ini menjelaskan bahwa seorang imam dalam shalat memiliki tanggung jawab besar karena ia memimpin makmum dalam ibadah. Jika imam menjalankan shalat dengan benar sesuai tuntunan syariat, maka baik imam maupun makmum akan mendapatkan pahala. Namun, jika imam melakukan kesalahan dalam shalatnya, maka makmum tetap mendapatkan pahala atas shalat mereka, sementara kesalahan atau dosa menjadi tanggungan imam.
Hadis ini juga memberikan ketenangan bagi makmum bahwa tanggung jawab utama dalam memimpin shalat ada pada imam, selama makmum telah mengikuti shalat dengan benar dan tidak mengetahui adanya kesalahan fatal dalam pelaksanaan shalat tersebut.
Orang yang Wafat pada Malam Jumat atau Hari Jumat
Kematian pada hari Jumat atau malam Jumat juga merupakan salah satu tanda keberuntungan bagi seorang muslim. Nabi saw. bersabda :سيّد الايّام يوم الجمعة
Artinya : “Penghulu hari adalah hari Jum’at”.
Maksudnya hari Jum’at paling utama daripada hari-hari yang lain. Dalam Al Jami’us Shaghir disebutkan : “Penghulu hari-hari di sisi Allah adalah hari jum’at, ia lebih agung dari pada hari kurban dan fithrah. Di dalamnya tergantung lima perkara yaitu : padanya Adam diciptakan, pada hari itu Adam diturunkan dari surga ke bumi, pada hari itu dia meninggal, dan pada hari jum’at terjadinya kiamat.” 9
Tiadalah seorang hamba yang memohon kepada Allah pada hari jum’at, melainkan Dia pasti memberi salam kepadanya selama tidak berbuat dosa dan memutus hubungan keluarga serta pada hari jum’atlah hari kiamat akan terjadi.
Tiadalah dari malaikat, langit, bumi, angin, gunung, dan batu melainkan ia merasa takut pada hari jum’at hal itu karena merasa takut terjadinya kiamat pada hari itu, yang padanya terdapat penggiringan ke mahsyar dan perhitungan amal. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Syafi’i, Ahmad, dan Al Bukhari dari Sa’ad bin Ubadah.
Nabi saw. bersabda :
Nabi saw. bersabda :
من مات يوم الجمعة اوليلتها رفع عنه عذاب القبر
Artinya : Siapa mati pada hari Jum’at atau malamnya, maka dihilangkan dari padanya siksa kubur”.
Dalam Ihya’ Ullumudin, Al Ghazali berkata : Nabi saw. bersabda : “Siapa yang mati pada hari Jum’at atau malam Jum’at, maka Alah menulis baginya mati syahid dan terjaga dari fitnah kubur, dengan syarat ia haris beriman”. 10
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah SAW bersabda:
مَـا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَـوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ.
“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum’at atau malamnya, kecuali Allah akan men-jaganya dari fitnah kubur.”
Al-Hakim at-Tirmidzi berkata, “Siapa saja yang meninggal pada hari Jum’at, maka penutup yang ada padanya di sisi Allah akan terbuka, karena pada hari Jum’at api Neraka tidak dinyalakan dan pintu-pintunya pun ditutup, penjaganya tidak bekerja seperti pada hari-hari biasanya.
Oleh karena itu, jika seorang hamba meninggal pada hari itu, maka hal tersebut merupakan bukti kebahagiaannya dan kabar gembira bagi tempat peristirahatan yang indah baginya. Tidaklah seseorang dicabut nyawanya pada hari tersebut kecuali dia adalah orang-orang yang telah ditetapkan untuk mendapatkan kebahagiaan, dengan itu dia dibebaskan dari fitnah kubur, karena fitnah kubur merupakan pembeda antara seorang mukmin dan munafik. ix
Hari Jumat adalah hari yang penuh berkah dalam Islam. Keistimewaan orang yang wafat pada hari tersebut menunjukkan bahwa Allah SWT telah memilih mereka untuk mendapatkan kebaikan di akhirat.
Dari penjelasan di atas, kita memahami bahwa Allah SWT memberikan perlindungan khusus bagi orang-orang yang memiliki amalan tertentu dalam hidupnya. Muadzin yang menyerukan adzan, imam yang memimpin shalat dengan baik, serta mereka yang wafat pada malam atau hari Jumat termasuk golongan yang diberikan jaminan keselamatan dari siksa kubur. Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa berusaha memperbaiki amal ibadah kita agar mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat.
Referensi:
- 1 Bab 8 Keutamaan Adzan >> https://terjemahkitab.com/terjemah-tanqihul-qoul/
- 2 Bab 8 Keutamaan Adzan >> https://terjemahkitab.com/terjemah-tanqihul-qoul/
- 3 Bab 8 Keutamaan Adzan >> https://terjemahkitab.com/terjemah-tanqihul-qoul/
- 4 Bab 8 Keutamaan Adzan >> https://terjemahkitab.com/terjemah-tanqihul-qoul/
- 5 Bab 8 Keutamaan Adzan >> https://terjemahkitab.com/terjemah-tanqihul-qoul/
- 6 Bab 8 Keutamaan Adzan >> https://terjemahkitab.com/terjemah-tanqihul-qoul/
- 7 Bab 8 Keutamaan Adzan >> https://terjemahkitab.com/terjemah-tanqihul-qoul/
- 8 Bab 8 Keutamaan Adzan >> https://terjemahkitab.com/terjemah-tanqihul-qoul/
- 9 Bab 10 Keutamaan Jumat >> https://terjemahkitab.com/terjemah-tanqihul-qoul/
- 10 Bab 10 Keutamaan Jumat >> https://terjemahkitab.com/terjemah-tanqihul-qoul/
- i Tafsirweb. QS. Fusillat 33. Diakses pada 15 Maret 2025 dari https://tafsirweb.com/9015-surat-fussilat-ayat-33.html
- ii Tafsirweb. QS. Fusillat 33. Diakses pada 15 Maret 2025 dari https://tafsirweb.com/9015-surat-fussilat-ayat-33.html
- iii Download kitab Tanqihul Qoul via .pdf di sini >> https://terjemahkitab.com/download/terjemah-tanqihul-qoul-pdf/
- iv Dr. K.H. Syamsul Yakin MA. Pahala Mengumandangkan Adzan. 2020. Diakses pada 15 Maret 2025 dari https://www.uinjkt.ac.id/id/pahala-mengumandangkan-adzan/
- v Jalaludin Abdurrahman bin Abu Bakar As Suyuthi. Bab 8 Keutamaan Adzan, Download kitab Tanqihul Qoul via .pdf di sini >> https://terjemahkitab.com/download/terjemah-tanqihul-qoul-pdf/
- vi Alhafiz Kurniawan. Siapa Imam atau Pemimpin yang Adil dalam Hadits Nabi?. 2018. Diakses pada 15 Maret 2025 dari https://islam.nu.or.id/ilmu-hadits/siapa-imam-atau-pemimpin-yang-adil-dalam-hadits-nabi-PkHlo
- vii Ustaz Irfan Abu Naveed, M.Pd.I. Hadis ‘Al-Imam Junnah’ dalam Penjelasan Ulama Muktabar (Bagian 1/2). 2023. Diakses pada 15 Maret 2025 dari https://muslimahnews.net/2023/02/05/17366/
- viii Rahma Ambar Nabillah. 4 Keutamaan Imam Sholat Sesuai Al-Qur'an dan Hadits. 2023. Diakses pada 15 Maret 2025 dari https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-7064483/4-keutamaan-imam-sholat-sesuai-al-quran-dan-hadits.
- ix Almanhaj. Meninggal Pada Malam Jum’at atau Hari Jum’at adalah Salah Satu Sebab Diselamatkan dari Siksa Kubur.
- Diakses pada 15 Maret 2025 dari https://almanhaj.or.id/1703-meninggal-pada-malam-jumat-atau-hari-jumat-adalah-salah-satu-sebab-diselamatkan-dari-siksa-kubur.html

0 Comments