Senja Ramadan 2025 Hari 12: Keutamaan Ibadah Di Tanah Suci Dan Bakti Kepada Orang Tua

Pada hari ke-12 Senja Ramadan 2025, narasmber kuliah di Masjid Besar Baiturrahman Genteng dipimpin oleh Ustadz Abdullah. Kajian ini mengangkat tema tentang keutamaan ibadah dan bakti kepada orang tua, serta berbagai amalan yang mendapatkan ganjaran luar biasa dari Allah SWT. Dalam kajian ini, Ustadz Abdullah menjelaskan beberapa poin penting yang bersumber dari Al-Qur'an dan hadits Rasulullah SAW.

Senja Ramadan 2025 Hari 12: Keutamaan Ibadah Dan Bakti Kepada Orang Tua 

Bulan Ramadan adalah waktu yang penuh berkah dan ampunan, di mana setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Di bulan suci ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, memperdalam ilmu agama, dan meningkatkan hubungan dengan Allah SWT serta sesama manusia. 

Dalam rangka mengisi Ramadan dengan ilmu yang bermanfaat, Masjid Besar Baiturrahman menggelar kajian senja yang dipimpin oleh Ustadz Abdullah. Kajian ini mengangkat tema tentang keutamaan ibadah dan bakti kepada orang tua, serta berbagai amalan yang mendapatkan ganjaran luar biasa dari Allah SWT. Dalam kajian ini, beliau menjelaskan beberapa poin penting yang bersumber dari Al-Qur'an dan hadits Rasulullah SAW.

Jasad Yang Utuh   

Ustadz Abdullah sedang memberikan kuliah di Masjid Besar Baiturrahman Genteng


Ustadz Abdullah menyampaikan bahwa ada sepuluh golongan manusia yang jasadnya tidak akan busuk di dalam kubur. Salah satu di antaranya adalah para penghafal Al-Qur'an. Menurut hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ada sepuluh golongan yang jasadnya tidak akan hancur dan akan dibangkitkan dalam keadaan utuh pada hari kiamat:  
  1. Para nabi.  
  2. Pejuang di jalan Allah (mujahid).  
  3. Ulama yang menegakkan ajaran Allah.  
  4. Syuhada yang berjuang demi Islam.  
  5. Penghafal Al-Qur’an yang mengamalkannya.  
  6. Pemimpin adil yang menegakkan syariat.  
  7. Muadzin yang mengumandangkan azan tanpa pamrih.  
  8. Wanita yang meninggal saat melahirkan dalam ketaatan.  
  9. Orang yang mati mempertahankan kehormatan dan agamanya.  
  10. Orang beriman yang meninggal pada hari atau malam Jumat dalam keadaan menjaga ajaran Islam.  
Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya di antara manusia ada yang jasadnya tetap utuh di dalam kubur, salah satunya adalah para penghafal Al-Qur'an." (HR. Baihaqi).

Ini menunjukkan kemuliaan bagi mereka yang senantiasa menjaga dan mengamalkan Al-Qur'an dalam kehidupan mereka.

Keistimewaan Beribadah di Makkah

Sungguh beruntung bagi kalian yang telah diberikan Allah SWT mengunjungi kota Makkah. Ternyata banyak keistimewaan yang bisa kita dapatkan di kota ini. Terutama jika kita menjalankan rangkaian ibadah dengan khusyuk. Ustadz Abdullah menjelaskan bahwa seseorang yang memandang Ka'bah dengan penuh keimanan serta hanya mengharap rahmat Allah SWT, maka dosa-dosanya yang terdahulu akan dihapus. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW: 

"Nabi SAW bersabda, “Setiap sehari semalam Allah menurunkan seratus dua puluh rahmat atas Baitullah. Enam puluh rahmat untuk yang melakukan tawaf, empat puluh untuk yang melakukan shalat, dan yang dua puluh untuk yang memandang Ka’bah.” (HR. Thabrani).

Keutamaan ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah saat berada di Tanah Suci. Syaikh Nawawi Banten dalam Tafsir Munir menegaskan bahwa seluruh nabi telah melakukan sujud kepada Allah SWT dengan menghadap Ka’bah. Menurut beliau, ayat ini menunjukkan bahwa Ka’bah juga menjadi kiblat bagi Nabi Syis, Nabi Idris, dan Nabi Nuh. Semua nabi menghormati dan memuliakan Ka’bah sebagai tempat ibadah yang suci.  

Ka’bah kemudian dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim bersama putranya, Ismail, sambil memanjatkan doa kepada Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: 

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’”(QS. Al-Baqarah: 127). 

Syaikh Nawawi Banten menjelaskan bahwa bebatuan yang digunakan untuk membangun Ka’bah berasal dari lima bukit, yaitu Bukit Tursina, Zaita, Libanon, Al-Judi, dan Harra untuk fondasi. Setelah pembangunan selesai, Malaikat Jibril datang membawa Hajar Aswad dari surga, yang awalnya berwarna putih tetapi kemudian berubah menjadi hitam. 

Hingga kini, Ka’bah tetap menjadi kiblat umat Islam di seluruh dunia, dan setiap Muslim memiliki kerinduan untuk beribadah di Masjidil Haram, melakukan thawaf, meminum air Zamzam, serta mencium Hajar Aswad dengan penuh haru dan keimanan.

Ustadz Abdullah juga menekankan bahwa melakukan satu kebaikan di Makkah akan dicatat sebanyak 100 kebaikan, sementara menjalankan shalat lima waktu di Makkah seakan-akan melaksanakannya selama 277 tahun di tempat lain. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: 

  .مَنْ جَاۤءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَالِهَاۚ وَمَنْ جَاۤءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزٰٓى اِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ 

"Siapa yang berbuat kebaikan, dia akan mendapat balasan sepuluh kali lipatnya. Siapa yang berbuat keburukan, dia tidak akan diberi balasan melainkan yang seimbang dengannya. Mereka (sedikit pun) tidak dizalimi (dirugikan)." ~ QS. Al An'am 160

Tafsir Wajiz dari ayat di atas adalah: 

Berkaitan dengan hari pembalasan, Allah menjelaskan tentang anugerah-Nya yang agung terhadap orang mukmin yang berbuat baik. Barang siapa berbuat kebaikan, walaupun sedikit, akan men-dapat balasan sepuluh kali lipat, bahkan bisa lebih dari itu sampai tujuh ratus kali lipat dari amalnya, karena Allah Mahakaya. 

Hal itu jika amal baik tersebut disertai dengan keikhlasan dan sesuai dengan aturan agama Islam. Dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya sebagai bentuk keadilan Allah. Mereka sedikit pun tidak dirugikan atau dizalimi. 

Allah tidak akan berbuat zalim sedikit pun terhadap hambahamba-Nya, seperti mengurangi pahala atau menambahkan dosa yang tidak diperbuat. Dialah Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang.


Hadits lain juga menyebutkan: Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah Saw menyatakan: 

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama dari 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Hadits ini menjelaskan keutamaan shalat di dua masjid suci, yaitu Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Makkah. Shalat di Masjid Nabawi memiliki pahala 1000 kali lipat dibandingkan di masjid lain, kecuali Masjidil Haram, karena masjid ini dibangun langsung oleh Rasulullah SAW dan menjadi pusat dakwah Islam. 

Sementara itu, shalat di Masjidil Haram memiliki keutamaan jauh lebih besar, yakni 100.000 kali lipat dibandingkan masjid lainnya, karena tempat ini adalah rumah Allah yang pertama di bumi dan pusat ibadah umat Islam. 

Hadits ini menunjukkan betapa besar pahala ibadah di kedua masjid ini, sehingga umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak shalat dan ibadah lainnya ketika berada di sana sebagai bentuk ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Berbakti Pada Orang Tua

Keutamaan melihat orang tua dengan penuh rahmat juga dijelaskan dalam kajian ini. Rasulullah SAW bersabda: 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: مَا مِنْ رَجُلٍ يَنْظُرُ إِلَى وَالِدَيْهِ نَظَرَ رَحْمَةٍ إِلَّا كَتَبَ اللهُ بِهَا حُجَّةً مَقْبُوْلَةً مَبْرُوْرَةً
رواه الرافعي في تاريخ قزوين بسند ضعيف.

“Dari Ibnu ‘Abbās r.a., ia berkata: Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Tidaklah seseorang memandang kepada kedua orang-tuanya dengan rasa cinta kasih sayang melainkan Allah menuliskan baginya pahala haji yang maqbūl dan mabrūr.” ~ (Diriwayatkan oleh ar-Rāfi‘ī di dalam Tārīkh Qazwīn dengan sanad lemah)

Betapa besarnya pahala hanya dengan memandang orang tua dengan penuh rasa cinta dan hormat, yang sering kali dilupakan oleh banyak orang. 

 وَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: النَّظَرُ فِيْ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ عِبَادَةٌ: النَّظَرُ فِيْ وَجْهِ الْأَبَوَيْنِ وَ فِي الْمُصْحَفِ وَ فِي الْبَحْرِ
رواه أبو نعيم

“Dan dari ‘Ā’isyah r.a., bahwa Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Pandangan mata pada tiga hal ini termasuk ibadah: memandang wajah bapak ibu dan memandang al-Mushḥaf dan memandang laut (al-baḥri).” ~ (Hadits ini riwayat Abū Nu‘aim).

Dalam Islam, nasab atau keturunan adalah sesuatu yang sangat dijaga, karena berkaitan dengan hak-hak keluarga, warisan, dan identitas seseorang. Rasulullah SAW memperingatkan bahwa siapa pun yang sengaja mengaku sebagai anak dari orang lain demi keuntungan pribadi atau alasan duniawi, maka ia tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga dapat tercium dari jarak tujuh puluh tahun perjalanan. 

Ini menunjukkan betapa besar dosa perbuatan tersebut, karena mengubah nasab bukan hanya bentuk kebohongan besar, tetapi juga menyalahi ketetapan Allah SWT dalam penciptaan manusia. 

Hadits berikut ini juga mengingatkan bahwa siapa pun yang sengaja berdusta atas nama Rasulullah SAW akan mendapatkan tempat di neraka. Oleh karena itu, umat Islam harus menjunjung tinggi kejujuran, menjaga nasab dengan benar, serta berhati-hati dalam menyampaikan perkataan, terutama yang berkaitan dengan ajaran Rasulullah SAW.

مَنْ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ قَدْرِ سَبْعِينَ عَامًا أَوْ مَسِيرَةِ سَبْعِينَ عَامًا قَالَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa mengaku keturunan dari orang lain yang bukan ayahnya sendiri tidak akan mendapatkan bau surga. Padahal bau surga telah tercium pada jarak tujuh puluh tahun, atau tujuh puluh tahun perjalanan.” (HR. Ahmad dishahihkan Al-Albany di Sohihul Jami’5988)

Hadits ini menjadi peringatan keras bagi setiap Muslim untuk selalu berbakti kepada orang tua dan menjauhi durhaka. Termasuk dengan menjaga nasab dari orang tua kandungnya sendiri.

Kajian ini juga menyoroti bagaimana hubungan baik dengan orang tua dapat menjadi sebab keberkahan hidup. Allah SWT berfirman: "

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ إِحْسَٰنًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُۥ وَفِصَٰلُهُۥ ثَلَٰثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ 
Artinya: Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". ~ Qs, Al Ahqaf 15

 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram :

Dan Kami telah memerintahkan kepada manusia suatu perintah yang kuat agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya dengan berbakti kepada keduanya dalam kehidupan mereka dan setelah kematian mereka dengan cara yang tidak menyalahi syariat, lebih khusus lagi kepada ibunya yang telah mengandungnya dengan penderitaan dan melahirkannya dengan penderitaan. 
Jarak antara mengandungnya hingga mulai menyapihnya tiga puluh bulan, hingga jika ia telah mencapai kesempurnaan kekuatan akalnya dan tubuhnya, ia berkata, “Wahai Rabb! Berilah aku petunjuk untuk mensyukuri kenikmatan yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan berilah aku petunjuk untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai dan terimalah dariku, serta perbaikilah untukku anak-anakku, sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu atas dosa-dosaku dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang tunduk kepada ketaatan-Mu dan pasrah kepada perintah-perintah-Mu.

Ayat ini menegaskan perintah Allah SWT kepada setiap manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Islam sangat menekankan pentingnya bakti kepada orang tua sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur atas jasa mereka dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Berbuat baik kepada orang tua mencakup berbicara dengan lemah lembut, membantu mereka dalam kesulitan, mendoakan kebaikan, serta tidak menyakiti hati atau membebani mereka dengan perilaku yang buruk. 

Ayat ini juga menunjukkan bahwa bakti kepada orang tua adalah salah satu amalan yang sangat dicintai Allah dan menjadi sebab keberkahan dalam hidup. Bahkan, dalam banyak hadits, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa ridha Allah tergantung pada ridha orang tua. Oleh karena itu, seorang Muslim harus selalu menghormati dan memperlakukan orang tua dengan penuh kasih sayang, terutama saat mereka telah lanjut usia.

Kajian senja Ramadan di Masjid Besar Baiturrahman ini menjadi pengingat bagi seluruh jamaah bahwa ibadah dan kebaikan kepada orang tua memiliki keutamaan luar biasa. Semoga kita semua dapat mengamalkan ajaran ini dalam kehidupan sehari-hari dan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Aamiin.