Memasuki Ramadan ke 16 yang berarti juga malam Nuzulul Qur'an, Senja Ramadan kali ini masih diisi oleh pemateri Ustadz Achmad Zubaidi. Secara garis besar, apa yang beliau sampaikan memang memiliki topik serupa dengan tulisan yang sebelum-sebelumnya, namun kali ini beliau menekankan tentang pentingnya merenungi nikmat, menghidari azab serta memahami keutamaan dalam beribadah terutama, berjamaah.
Senja Ramadan 2025 Hari 16: Merenungi Nikmat, Azab, dan Keutamaan Berjamaah
Senja Ramadan ke-16 mengingatkan kita akan betapa besarnya nikmat yang telah Allah SWT berikan. Sebagai manusia, kita sering lupa untuk bersyukur atas karunia yang kita terima setiap hari, padahal Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur'an:وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌWa iż ta`ażżana rabbukum la`in syakartum la`azīdannakum wa la`ing kafartum inna 'ażābī lasyadīdArtinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". ~ QS. Ibrahim Ayat 7
Dan ingatlah pula ketika tuhanmu memaklumkan suatu maklumat yang dikukuhkan, sesungguhnya aku bersumpah, jika kamu bersyukur atas nikmat-nikmat-ku kepadamu, niscaya aku akan menambah kepadamu nikmat lebih banyak lagi, tetapi sebaliknya, jika kamu mengingkari nikmat-ku, maka pasti azab-ku sangat berat.
Dan Musa berkata untuk mengingatkan kaumnya bahwa mensyukuri nikmat Allah bukanlah untuk kepentingan Allah, jika kamu dan orang yang ada di bumi ini semuanya mengingkari nikmat Allah, maka sesungguhnya Allah mahakaya sehingga keingkaran mereka tidak akan sedikit pun mengurangi kekayaan-Nya, maha terpuji atas segala hal yang terjadi di alam semesta.
Ayat ini mengajarkan bahwa bersyukur atas nikmat Allah akan mendatangkan tambahan nikmat, sedangkan mengingkari nikmat-Nya akan berujung pada azab yang berat. Syukur bukan untuk kepentingan Allah, melainkan untuk kebaikan manusia sendiri, karena Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan pengakuan makhluk-Nya.
Bahkan jika seluruh manusia di bumi mengingkari nikmat-Nya, hal itu tidak akan mengurangi kemuliaan dan kebesaran-Nya. Oleh karena itu, manusia dianjurkan untuk selalu bersyukur agar mendapatkan keberkahan dan terhindar dari azab Allah.
Senja Ramadan ke-16 adalah pengingat bahwa bersyukur atas nikmat Allah adalah kunci keberkahan hidup. Kita juga belajar dari kisah kaum Saba bahwa kesombongan hanya membawa kehancuran. Selain itu, menjaga sholat berjamaah dan menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan akan membawa kita lebih dekat kepada Allah dan Rasul-Nya. Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk terus beribadah dan mendapatkan Lailatul Qadar. Aamiin.
Kisah Kaum Saba dan Azab yang Menimpa
Untuk memahami makna syukur, Ustadz Achmat Zubaidi mengisahkan tentang riwayat negeri Saba. Berikut kisahnya:Di masa lalu, ada sebuah negeri bernama Saba yang dikenal sebagai negeri makmur dan subur. Penduduknya memiliki banyak kebun dan sumber air yang melimpah. Namun, mereka menjadi sombong dan melupakan perintah Allah SWT. Mereka terus berbuat maksiat, tidak bersyukur, dan menolak ajakan para nabi untuk kembali ke jalan yang benar.
Dalam Al-Qur'an, kisah ini dijelaskan:
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
Yang artinya: “Sungguh, bagi Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua kebun di kanan dan kiri (jalan mereka). (Dikatakan kepada mereka), ‘Makanlah dari rezeki yang diberikan Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negeri yang baik) dan Tuhan Yang Maha Pengampun.’” (QS. Saba’ 34:15)
فَأَعْرَضُوا۟ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ ٱلْعَرِمِ وَبَدَّلْنَٰهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَىْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَىْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ
Artinya: Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. ~ (QS. Saba’ 34:16)
ذَٰلِكَ جَزَيْنَٰهُم بِمَا كَفَرُوا۟ ۖ وَهَلْ نُجَٰزِىٓ إِلَّا ٱلْكَفُورَ
Artinya: Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. ~ (QS. Saba’ 34:17)
Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur'an Univ Islam Madinah: Ayat 15-17
Saba adalah raja-raja negeri Yaman dan penduduknya, dan Tababi'ah itu berasal dari mereka, dan Balqis teman wanita nabi Sulaiman termasuk salah seorang dari mereka. Dahulu mereka memiliki kenikmatan dan kesenangan di negeri dan kehidupan mereka, dan keluasan rezeki, tanam-tanaman dan buah-buahan mereka.
Kemudian Allah SWT mengutus kepada mereka para rasul yang memerintahkan mereka untuk memakan rezeki Allah, bersyukur kepadaNya dengan mengesakan dan menyembahNya. Lalu mereka tetap demikian selama masa yang dikehendaki Allah SWT. Kemudian mereka berpaling dari apa yang diperintahkan kepada mereka. Maka mereka diazab dengan didatangkan kepada mereka banjir besar yang memporak-porandakan seluruh negeri Saba’ sampai hancur lebur.
Allah SWT berfirman: (Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka) Kemudian Dia menjelaskannya dengan firmanNya: (yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri) yaitu dari di kedua sisi bukit itu, dan negeri itu di di antara itu ((kepada mereka dikatakan), "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”) yaitu Maha Pengampun kepada kalian jika kalian tetap mengesakanNya.
Firman Allah SWT: (Tetapi mereka berpaling) yaitu dari mengesakan Allah, menyembahNya, dan bersyukur kepadaNya atas nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepada mereka. Mereka berpaling kepada menyembah matahari, bukan Allah. Sebagaimana yang dikatakan oleh burung Hud-hud kepada nabi Sulaiman: (dan aku bawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini (22)
Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar (23) Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk (24)) (Surah An-Naml)
Firman Allah SWT: (maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar) yang dimaksud dengan “al-’arim” adalah air. Dikatakan bahwa itu adalah lembah. Dikatakan bahwa itu adalah tikus, Dikatakan juga bahwa itu adalah air bah. Jadi ini termasuk dalam Bab mengidhafahkan isim kepada sifatnya seperti “Masjid Al-Jami'” dan “Sa'id Kurzi. Demikianlah yang diriwayatkan As-Suhailiy.
Firman Allah SWT: (yang berbuah pahit) yaitu pohon siwak yang buahnya pahit, yaitu buah dari pohon siwak itu. Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Al-Hasan dan Qatadah berkata bahwa yang dimaksud adalah pohon siwak yang rasanya pahit
Firman Allah: (dan sedikit dari pohon sidr) Pohon pengganti yang terbaik dari pepohonan tersebut adalah pohon sidr (dan sedikit dari pohon sidr). Demikianlah perkara dari kedua kebun itu, setelah buah-buahan sangat subur, pemandangannya indah, rimbun, dan sungai yang mengalir, kemudian diganti dengan pohon siwak, tharfa’, dan sidr yang semuanya berduri dan berbuah sedikit. Demikian itu karena kekafiran dan tindakan syirik terhadap Allah serta mendustakan kebenaran, lalu memilih kebathilan.
Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir (17)) yaitu Kami menghukum mereka karena kekafiran mereka.
Mujahid berkata bahwa dia tidak disiksa melainkan hanya orang-orang kafir.
Dari kisah dalam tafsir ini, kita dapat belajar bahwa nikmat yang diberikan Allah kepada suatu kaum bergantung pada ketaatan dan kesyukuran mereka. Kaum Saba’ awalnya hidup dalam kemakmuran dengan tanah yang subur dan rezeki yang berlimpah, tetapi ketika mereka berpaling dari Allah dan menyembah matahari, mereka dihukum dengan banjir besar yang menghancurkan negeri mereka.
Ini menunjukkan bahwa kekafiran dan kesombongan terhadap nikmat Allah akan berujung pada kebinasaan. Selain itu, kisah ini menegaskan bahwa azab Allah tidak diturunkan secara sembarangan, tetapi hanya kepada mereka yang sangat ingkar terhadap-Nya. Oleh karena itu, manusia harus selalu bersyukur, taat kepada perintah Allah, dan menjauhi kesyirikan agar keberkahan tetap terjaga.
Keutamaan Sholat Berjamaah di Bulan Ramadan
Di bulan Ramadan, Allah SWT memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah sholat berjamaah, baik sholat fardhu maupun sholat tarawih. Rasulullah SAW bersabda:"مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلَاةِ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ، فَصَلَّاهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِي الْمَسْجِدِ غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوبَهُ”Barangsiapa yang berwudhu untuk shalat dengan menyempurnakan wudhu, kemudian berjalan untuk menunaikan shalat wajib, dan shalat bersama manusia atau bersama jamaah atau di masjid, maka Allah akan mengampuni dosanya.” (HR. Muslim)
أَبْشِرُوا، هَذَا رَبُّكُمْ قَدْ فَتَحَ بَابًا مِنْ أَبْوَابِ السَّمَاءِ، يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ، يَقُولُ: انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي قَدْ قَضَوْا فَرِيضَةً، وَهُمْ يَنْتَظِرُونَ أُخْرَى”Bergembiralah. Rabb kalian telah membuka salah satu pintu langit seraya membanggakan kalian di hadapan para malaikat dan berkata,’Lihatlah hamba-Ku, mereka yang telah melaksanakan shalat wajib dan mereka menunggu shalat wajiban berikutnya.” (HR. Ibnu Majah. Mundziri berkata, ”Perawinya dapat dipercaya”. Di-shahih-kan oleh Syaikh Albani)
Hadis-hadis ini mengandung makna yang dalam tentang keutamaan shalat berjamaah, menyempurnakan wudhu, dan menunggu shalat berikutnya. Dari sini, kita bisa mengambil beberapa pelajaran penting:
- Keutamaan Wudhu yang Sempurna: Hadis pertama menekankan pentingnya menyempurnakan wudhu sebelum shalat. Wudhu bukan sekadar syarat sah shalat, tetapi juga sarana untuk mendapatkan pengampunan dosa. Ini menunjukkan bahwa ibadah yang dilakukan dengan baik dan penuh kesungguhan akan mendatangkan berkah dan ampunan dari Allah.
- Keistimewaan Shalat Berjamaah: Menunaikan shalat wajib secara berjamaah, terutama di masjid, memiliki keutamaan besar. Allah menjanjikan pengampunan dosa bagi mereka yang melakukannya. Ini menjadi motivasi bagi umat Islam untuk selalu menjaga shalat berjamaah dan tidak melalaikannya.
- Pahala Menunggu Shalat Berikutnya: Hadis kedua menggambarkan bagaimana Allah membanggakan hamba-hamba-Nya yang setelah menyelesaikan satu shalat tetap menunggu shalat berikutnya. Ini menunjukkan bahwa orang yang selalu menjaga shalatnya dianggap sebagai hamba yang dicintai Allah, hingga mereka mendapatkan kemuliaan di hadapan para malaikat.
- Allah Membanggakan Hamba yang Taat: Bayangkan betapa luar biasanya ketika Allah sendiri membanggakan orang-orang yang menjaga shalatnya di hadapan para malaikat. Ini menegaskan betapa pentingnya istiqamah dalam ibadah, karena amalan tersebut tidak hanya bernilai bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi bukti ketakwaan yang dihargai di langit.
Dari hadis-hadis ini, kita belajar bahwa menjaga wudhu, shalat berjamaah, dan menunggu waktu shalat berikutnya bukan hanya rutinitas ibadah, tetapi juga jalan menuju ampunan, kemuliaan, dan cinta Allah.
Mencari Lailatul Qadar di 10 Hari Terakhir
Menjelang akhir Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk semakin meningkatkan ibadah, terutama dalam 10 malam terakhir. Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan, di mana doa-doa dikabulkan dan dosa-dosa diampuni. Rasulullah SAW bersabda:"عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.Artinya: Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah saw bersabda: Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dalam sepuluh terakhir di bulan Ramadhan (HR Bukhari).
عَنْ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِArtinya: Dari Aswad dari Aisyah ra ia berkata bahwa Nabi saw meningkat amal-ibadah pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan melebihi di waktu yang lain (HR Muslim).
Hadis-hadis ini mengajarkan kepada kita tentang keutamaan Lailatul Qadar dan pentingnya meningkatkan ibadah di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Berikut beberapa makna dan pelajaran yang bisa diambil:
- Lailatul Qadar adalah Malam yang Sangat Istimewa: Rasulullah ﷺ menekankan agar umat Islam mencari Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Malam ini lebih baik dari seribu bulan (QS Al-Qadr: 3), sehingga ibadah yang dilakukan pada malam ini memiliki pahala yang luar biasa besar.
- Kesungguhan dalam Beribadah di Akhir Ramadhan: Hadis kedua menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ meningkatkan ibadahnya secara maksimal di sepuluh malam terakhir. Ini mengajarkan kita untuk memperbanyak shalat, dzikir, doa, membaca Al-Qur'an, dan amal shaleh lainnya sebagai bentuk kesungguhan dalam beribadah.
- Malam Ganjil sebagai Waktu Utama: Rasulullah ﷺ secara khusus menyebutkan bahwa Lailatul Qadar kemungkinan besar terjadi pada malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan). Ini memberi motivasi bagi umat Islam untuk lebih fokus dalam mencari malam penuh keberkahan tersebut.
- Kesempatan Meraih Ampunan dan Rahmat Allah: Lailatul Qadar adalah malam penuh keberkahan, di mana doa-doa dikabulkan dan dosa-dosa diampuni. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa.
- Meneladani Rasulullah ﷺ dalam Beribadah: Rasulullah ﷺ adalah suri teladan dalam beribadah, terutama dalam momen-momen penting seperti sepuluh malam terakhir Ramadhan. Kita diajarkan untuk mengikuti jejak beliau dengan bersungguh-sungguh dalam ibadah dan tidak melewatkan kesempatan besar yang Allah berikan di bulan suci ini.
Hadis-hadis ini mengajarkan kita untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan emas di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Dengan meningkatkan ibadah, memperbanyak doa, dan mencari Lailatul Qadar, kita bisa meraih pahala besar dan ampunan dari Allah SWT.
Senja Ramadan ke-16 adalah pengingat bahwa bersyukur atas nikmat Allah adalah kunci keberkahan hidup. Kita juga belajar dari kisah kaum Saba bahwa kesombongan hanya membawa kehancuran. Selain itu, menjaga sholat berjamaah dan menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan akan membawa kita lebih dekat kepada Allah dan Rasul-Nya. Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk terus beribadah dan mendapatkan Lailatul Qadar. Aamiin.

0 Comments